Kamasan Bali : Pengrajin Uang Kepeng dari Kamasan

  • 19 September 2016
  • Dibaca: 862 Pengunjung
Kamasan Bali : Pengrajin Uang Kepeng dari Kamasan

Desa Kamasan tak hanya terkenal dengan lukis klasiknya, namun juga terkenal dengan kerajinan uang kepengnya.  Kerajinan ini dilaksanakan dalam bengekal, di mana menjelang tengah hari biasanya beberapa pekerja  sedang sibuk mencairkan material logam ditungku perapian. Mereka mencairkan logam sebagai bahan dasar untuk membuat kepingan pis bolong. Setelah mencair, logam-logam tersebut dituangkan pada cetakan yang telah disiapkan dilantai bengkel tempat mereka bekerja yakni UD Kamasan Bali. Bengkel ini dimiliki oleh warga desa Kamasan I Made Sukma Swacita namun lokasinya ada di Desa Tojan, Klungkung.

Tak hanya berupa sebuah bengkel usaha untuk memproduksi berbagai kerajinan berbasis logam, juga sekaligus menjadi tempat untuk memajang hasil kerajinan logam tersebut. Usaha ini dikembangkan oleh I Made Sukma Swacita pada tahun 2004. Kemudian iapun melibatkan putranya yang bernama I Gede Andika Prayatna Sukma untuk menekuni bisnis uang kepeng ini.

“Pada mulanya, gagasan membangun usaha uang kepeng ini adalah atas dorongan Gubernur Dewa Made Brata melalui Bali Heritage Trust, satu lembaga pelestarian budaya Bali”, jelas I Made Sukma Swacita. “Setelah itu pada 29 April 2004, kami mencoba untuk melakukan pengecoran pertama”, lanjut I Made Sukma Swacita.

Memproduksi uang kepeng ini tidaklah sekedar membuat produksi kerajinan pada umumnya. Karena uang kepeng merupakan bagian di dalam upacara keagamaan di Bali. Untuk itu, sebelum KamasanBali memproduksi secara menetap, diadakan satu acara simbolik untuk memasukkan unsur lima logam yaitu emas, perak, kuningan, tembaga dan besi (Panca Datu).

Prosesi simbolik ini diteruskan dengan mendapat restu dari Ida Pedande sebelum uang kepeng ini disebarkan kepada masyarakat. Dan pengukuhan dengan melakukan Nunas Penugrahan (upacara peresmian) di dua pura besar, Pura Agung Besakih (Lingga) dan Pura Ulun Danu Batur (Yoni). Baru setelah itu pada tahun 2004, setelah membagikan 200 keping uang kepeng kepada seluruh bendesa adat di Bali yang berjumlah 1.417 bendesa adat, KamasanBali resmi memproduksi uang kepeng.

KamasanBali memproduksi uang kepeng dengan desain aksara Sa, Ba, Ta, A, I yang merupakan unsur Panca Aksra. Huruf Sa, arah Timur, berwarna putih dengan unsur perak yang merupakan simbol kekuatan Dewa Iswara. Huruf Ba, arah Selatan, berwarna merah dengan unsur tembaga yang merupakan simbol kekuatan Dewa Brahma. Huruf Ta, arah Barat, berwarna kuning dengan unsur emas yang merupakan symbol Dewa Mahadewa. Huruf A, arah Utara, berwarna hitam dengan unsur besi yang merupakan simbol Dewa Wisnu. Sementara itu huruf I, berada di tengah, berwarna-warni dengan unsur logam perunggu atau kuningan yang merupakan simbol dari Dewa Siwa. Desain lainnya bermotifpadma yang melambangkan kesucian.

KamasanBali juga memproduksi berbagai kreasi logam untuk pasar kerajinan. “Memang betul, namun produksi uang kepeng ini erat kaitannya dengan umat Hindu Bali. Karena sebelum kami memproduksi uang kepeng, uang ini langka dan harganya amat mahal. Akhirnya kita tergantung dengan uang kepeng yang diimpor dari China”, jelas I Made Sukma Swacita. “Selain tentunya kita juga melestarikan budaya Bali itu sendiri”, kata I Made Sukma Swacita.

  • 19 September 2016
  • Dibaca: 862 Pengunjung

Berita Terkait Lainnya

Cari Berita