Sejarah Desa

  • Dibaca: 3159 Pengunjung

Desa kamasan diperkirakan sudah ada sejak pemerintahan raja-raja Bali Kuno. Hal ini dibuktikan dengan hadirnya nama ‚Äěkamasan? dalam prasasti Anak Wungsu yang bertahun Saka 994 (1072 M) berarti benih yang bagus. Kamasan merupakan desa kecil di Kabupaten Klungkung, Bali yang berjarak 42 kilometer ke timur kota Denpasar. Desa ini dikategorikan sebagai desa kecil karena wilayah dukungannya yang hanya seluas 249 hektar dengan jumlah penduduknya hanya sekitar 3.400 jiwa yang tersebar dalam 10 banjar adat atau 4 dusun desa dinas. Desa Kamasan terhampar memanjang dari utara ke selatan dengan batasan-batasan sebagai berikut: di sebelah utara Desa Giliran; di sebelah selatan Desa Gelgel; disebelah Timur Desa Tangkas; disebelah barat Desa Jelantik.

Diwilayah Desa Kamasan terdapat sungai Hee sebagai anak sungai Unja yang mengalir sepanjang hari diperbatasan desa Kamasan. Kehadiran sungai ini menyebabkan sebagian matapencaharian masyarakanya adalah bertani. Masyarakat desa Kamasan juga melakukan pekerjaan-pekerjaan lain sebagai mata pencaharian sampingan. Ini terjadi karena luas tanah pertanian yang ada di desa ini tidak begitu banyak dan mereka kebanyakan bukanlah pula para petani pemilik sawah. Pekerjaan-pekerjaan sampingan yang dilakukannya antara lain: pedagang, buruh, pertukangan (pande besi, mas, perak, tembaga, tukang kayu dan pelukis wayang) dan lain-lain. Dalam perkembangan selanjutnya, pekerjaan yang semula merupakan pekerjaan sampingan berubah menjadi pekerjaan pokok karena hasil yang diperoleh cukup baik. Bahkan tidak jarang pekerjaan petani ditinggalkannya beralih ke pekerjaan melukis wayang dan pande perak. Dalam data statistik penduduk dikantor Kepala Desa Kamasan menunjukan bahwa warga yang paling banyak melakukan pekerjaan melukis wayang adalah dari Desa Sangging. Para pelukis terdiri dari pria dan wanita, mulai dari anak-anak, orang muda, hingga orang tua. (Bagus DKK, 1981:10)

Di Tahun 2003 Monografi Desa Kamasan mencatat tiga dusun di wilayah yang dimaksud kini tumbuh tiga jenis industri rumah tangga utama. Selain menggeluti lukisan wayang, juga ada kerajinan perak dan emas, industri kerajinan kuningan dan selongsong peluru.

Desa Kamasan merupakan induk seni lukis wayang purwa di Bali. Sejarah mencatat, desa Kamasan turut mewarnai perjalanan perkembangan seni lukis Bali. Desa ini bahkan dikenal sebagai "gudang"-nya karya seni lukis wayang klasik, hasil torehan para seniman yang terdiri dari warga kampung itu sendiri.

Seni lukis wayang ini berkembang di Desa Kamasan dan daerah lain di Bali sejak zaman Kerajaan Majapahit. Pada abad ke-14 hingga abad ke-18 pulau Bali dikuasai para Dalem, raja-raja keturunan Sri Kresna Kepakisan dari Kerajaan Majapahit. Selama Dinasti Kepakisan memegang tampuk kerajaan, Bali mengalami masa kejayaan. Kekuasaan raja Bali zaman itu pernah meliputi pesisir Jawa Timur, Lombok, bahkan sampai Sumbawa. Salah satu Dalem yang paling dikenal adalah Sri Waturenggong, cucu Sri Kresna Kepakisan. Pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong inilah seni budaya di Bali mengalami masa pencerahan karena sang raja juga penggemar seni budaya.

Dijaman pemerintahan Dalem Waturenggong, pusat pemerintahan yang semula berada di Samprangan dipindahkan ke Desa Gelgel, yang dikenal sebagai Puri Suwecapura dengan Istana Karunia. Dari tempat ini, Dalem Waturenggong menata urusan pemerintahan dan keamanan negara. Sementara pada saat yang sama, desa Kamasan yang terletak di sebelah utara Gelgel ditatanya sebagai salah satu pusat kerajaan yang khusus mengurus seni budaya, pendidikan, dan keagamaan.

Semenjak pemerintahan Dalem Waturenggong desa Kamasan tumbuh menjadi desa yang memunculkan benih-benih kesenian yang subur hingga melahirkan seni lukis wayang purwa yang kini dikenal sebagai Seni Lukis Wayang Kamasan. Selanjutnya, seni lukis wayang ini berkembang pada warga setempat yang melahirkan puluhan seniman lokal

  • Dibaca: 3159 Pengunjung