Sejarah Desa Kamasan

Administrator

 

Keberadaan suatu desa atau wilayah pada umumnya mempunyai nama yang mengandung makna tertentu, hal ini dimaksudkan untuk mengenang suatu peristiwa atau hal-hal lain yang dianggap penting dan terkait dengan berdirinya desa tersebut. Di Bali khususnya, nama suatu desa sangat erat kaitannya dengan sejarah Raja-Raja Bali di zaman dulu yang dapat ditemukan dalam sebuah prasasti.

Kamasan atau “Ka-emas-an” adalah nama yang cukup tua untuk komunitas orang-orang yang mempunyai pekerjaan dalam bidang memande  yaitu Pande Mas sesuai dengan nama salah satu banjar di desa Kamasan.   Bukti arkeologis yang ditemukan berupa tahta-tahta batu, arca menhir, lesung batu, palungan batu, monolit yang berbentuk silinder, batu dakon, lorong-lorong jalan yang dilapisi batu kali yang pernah ditemukan pada tahun 1976 dan 1977, yang tersebar di desa-desa Kamasan dan sekitarnya memberi petunjuk bahwa komunitas tersebut cukup tua umurnya. Dari temuan arkeologis tersebut juga memberi petunjuk bahwa tradisi megalitik pernah mewarnai kehidupan komunitas di Kamasan dan sekitarnya, yaitu kehidupan komunitas pra Hindu yang berakar pada masa neolitikum ( ± 2000 tahun SM).

Tradisi Megalitik telah diserap oleh para undagi dan ke-pande-an pada periode kemudian. Para Pande semakin dikenal dan difungsikan oleh Raja (Ida Dalem) sejak kerajaan berpusat di Gelgel (1380-1651). Produk seni ukir pada logam emas atau perak yang berbentuk pinggan (bokor, dulang dll) telah dijadikan perlengkapan barang-barang perhiasan Keraton Suweca Linggaarsa Pura Gelgel.  Selain seni ukir, berkembang pula seni lukis wayang untuk hiasan di atas kain berupa bendera (kober , umbul-umbul, lelontek), kain hiasan (ider-ider dan parba) yang menjadi pelengkap dekorasi di tempat-tempat suci (pura) atau bangunan di komplek Kraton.  Sejak pemegang tahta II berkuasa yaitu Dalem Waturenggong (1460-1550) kerajaan Gelgel mencapai puncak kemasyuran, maka keemasan Kamasan dikenal pula sebagai desa pengrajin.

Banjar-banjar yang ada terutama Sangging dan Pande Mas dapat dikatakan banjar Gilda, kelompok kerja, pengrajin yang terdiri dari rumah-rumah serta bengkel-bengkel dimana para warganya tinggal, bekerja dan mengabdi kepada sang Raja hingga pada akhir hayat mereka. Raja dipandang sebagai dewa, raja yang bertugas menjaga agar jagad (alam semesta dan isinya) senantiasa ada dalam keadaan seimbang dan selaras. Oleh karena seni dipandang sebagai unsur penting dalam menjaga keselarasan itu lewat karya seni sakral maka menjadi tugas penguasa untuk melindungi serta memelihara kesenian.

Sejarah mencatat bahwa seni lukis wayang kulit ini berkembang di Desa Kamasan dan tentunya daerah lain di Bali sejak zaman Kerajaan Majapahit. Cukup lama Pulau Bali dikuasai oleh para Dalem yang merupakan keturunan para raja Kerajaan Majapahit, yakni sekitar abad ke-14 sampai abad ke-18. Bali sendiri mengalami puncak kejayaannya dimasa Dinasti Kepakisan berkuasa. Kerajaan Bali ketika itu mencapai pesisir Jawa Timur, Lombok, bahkan sampai ke Sumbawa. Dimana salah satu Dalem yang paling terkenal yakni Sri Waturenggong yang merupakan cucu Sri Kresna Kepakisan. Nah, dimasa pemerintahan Waturenggong inilah kesenian di Bali secara umum mengalami masa pencerahan karena sang raja sendiri yang sangat menyukai seni-budaya.

Para seniman dan pengrajin Sangging, Pande Mas dan Banjar-Banjar lainnya : Siku, Geria, Kacangdawa, Peken Pande dan Tabanan masih terus menghasilkan lukisan atau ukiran gaya Kamasan atau gaya wayang. Perluasan produk pengrajin telah beragam, tidak hanya terbatas pada ukiran emas dan perak tetapi muncul pula seni ukir yang berbahan tembaga atau kuningan dan peluru. Produk kesenian mereka berupa lukisan atau ukirannya banyak dipesan oleh wisatawan mancanegara atau nusantara. Begitu juga, sejalan dengan meningkatnya Tourism, toko-toko souvenir dan seni di Klungkung, atau pasar seni daerah lainnya serta hotel-hotel juga menjadi pelanggan tetap dari produk kesenian gaya wayang Kamasan.

Berdasarkan monografi desa, tertulis sejarah Desa Kamasan diketahui bersumber dari prasasti yang telah ditemukan  serta dari penjelasan para sesepuh atau tokoh masyarakat. Latar belakang sejarah Desa Kamasan tercantum dalam Prasasti Anak Wungsu Tahun 994 Saka atau Tahun 1072 Masehi. Dalam prasasti tersebut dijelaskan bahwa kata atau nama Kamasan secara etimologi terdiri dari kata Kama yang berarti bibit dan San yang berarti indah.

Dari pengertian tersebut dapat dirumuskan bahwa Kamasan sebagai nama desa sekarang ini mengandung makna bahwa setiap kelahiran anak manusia di Desa Kamasan diharapkan merupakan manusia-manusia yang memiliki sumberdaya yang berbobot dan disertai nilai keindahan yang tinggi. 

 

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini. Gunakan bahasa yang santun dan komentar baru terbit setelah disetujui Admin.

CAPTCHA Image
[ Ganti Gambar ]
Isikan kode di gambar

Peta Desa

Layanan Mandiri


Silakan datang atau hubungi operator desa untuk mendapatkan kode PIN anda.

Masukan NIK dan PIN

Sinergi Program

Prodeskel Pajak Online

Aparatur Desa

Info Media Sosial

Statistik Pengunjung

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Komentar Terkini